News

Emergency Stop Signal, Penting Untuk Mencegah Tabrakan Beruntun

Style dan safety itu penting. Mobil-mobil modern dibekali stop lamp atau lampu belakang dengan desain atraktif dan tentu saja, fitur mutakhir. Dari lampu LED yang terang namun hemat listrik, seqential, ceremonial, hingga emergency stop signal. Yang terakhir ini, bukan sekadar untuk menarik perhatian, namun penting untuk keselamatan berkendara.

Emergency stop signal sering juga disebut Emergency Brake Signal (EBS), dibuat untuk mengurangi risiko kecelakaan, terutama tabrakan beruntun. Kecelakaan ini biasanya terjadi karena pengemudi di belakang biasanya terlambat mengantisipasi keadaan saat sedang berkendara atau jarak yang terlalu dekat.

EBS bekerja secara otomatis ketika pengemudi melakukan pengereman keras atau hard braking. Tak hanya lampu rem yang menyala, lampu hazard secara otomatis juga akan berkedip dengan cepat. Tujuannya, memberikan peringatan kepada pengemudi di belakang untuk segera mengurangi kecepatan.

EBS berfungsi untuk memberikan informasi akan adanya situasi darurat sehingga pengendara di belakang harus lebih waspada, mengurangi kecepatan dan menjaga jarak. Fitur EBS sangat penting untuk menjaga keselamatan dan kewaspadaan pengemudi. Terutama saat melaju di jalan tol yang lurus dan padat, dimana mobil cenderung memacu kendaraan dengan cepat.

EBS, dalam bahasa Indonesia bisa terjemahkan sebagai Sinyal Rem Darurat, memiliki tugas penting saat terjadi situasi kritis dan memaksa pengemudi melakukan pengereman mendadak.

Kedipan yang cepat, warna merah yang mencolok, emergency stop sinyal sudah pasti dengan cepat ditangkap atau terlihat pengemudi di belakang mobil yang mengerem mendadak. Bahkan pada jarak yang tidak terlalu dekat sekalipun atau cuaca buruk seperti hujan deras atau kabut. Kedipan cepat tersebut merupakan pesan agar pengemudi di belakang waspada dan bersiap mengurangi kecepatan.

Tag
Tampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button
Close